Disdagperin Pati Fasilitasi Pengembangan IKM Batik Yuliartiwarno Juwana

Bagikan:

PATI – Batik Yuliartiwarno adalah salah satu Industri Kecil Menengah (IKM) yang berada di Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Sebagai salah satu IKM binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Batik Yuliartiwarno menawarkan kualitas terbaik dan menjadi ikon batik di Bumi Mina Tani.

Tamzis, selaku owner Batik Yuliartiwarno mengungkapkan, perkembangan industrinya ini tak lepas dari bantuan berbagai pihak termasuk Disdagperin dalam memberikan berbagai fasilitasi dalam pengembangan industri batik.

“Pemerintah sangat mendukungnya perkembangan batik, mulai dari manajemen, pengetahuan kualitas produk, pelatihan, peralatan, dan dukungan lain untuk pengembangan kemajuan batik di Kabupaten Pati. Ada juga CSR (Corporate Social Responsibility) dari angkasa pura, Pertamina, Telkom, dan universitas termasuk dinas yang sangat menentukan kebijakan agar kami bisa bekerjasama dengan kami,” ungkapnya, Jumat 13 Februari 2026.

Bantuan promosi dari Disdagperin melalui berbagai event baik tingkat kabupaten , provinsi, hingga nasional, juga berdampak besar terhadap omset penjualan Batik miliknya. Dengan harga yang bervariatif antara Rp200 ribu sampai Rp 1 jutaan per potongnya. Dirinya bersama sejumlah karyawan dan istri bisa memproduksi sebanyak seribu potong kain batik setiap bulanya.

Selain harga yang relatif murah dan terjangkau berbagai kalangan, keunggulan lain dari Batik ini adalah motifnya yang unik. Tamzis menjelaskan, selain motif khas Pati, dirinya juga memprodukasi batik dengan motif khas Bakaran dengan perpaduan batik Solo dan Jogja.

“Yuliartiwarno ini motifnya klasik masih kita produksi dengan kualitas premium, tetapi masih terjangkau pasar. Motifnya juga ikonik sesuai permintaan baru kita produksi khusus,” imbuh Tamzis.

Meski sudah cukup terbantu dengan adanya bantuan promosi dari Disdagperin, Tamzis di rumah bersama sang istri juga membuka showroom batik yang cukup ramai diminati oleh masyarakat Pati dan sekitarnya.

Hanya saja kelemahannya, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi persoalan ditengah tingginya permintaan konsumen. Tamzis juga seringkali kuwalahan arena sulitnya mencari orang yang benar-benar terampil dalam membatin.

“Setiap hari kita bisa memproduksi seribu lembar lebih. Tetapi kelemahannya mungkin di tenaga ahli, karena sangat sedikit dan terbatas. Kemudian kendala pemasaran karena adanya perubahan kebijakan pemerintah yang tidak menentu,” tandasnya.

Sementara itu, kepala Disdagperin Pati Bhakti Januar Ishrony sangat mendukung perkembangan dari Batik Yuliartiwarno. Pihaknya juga akan menampung apa yang menjadi keluhan dari salah satu IKM Disdagperin tersebut, untuk kemudian dibantu dalam hal promosi dan lainnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page