
‘jPati, jejaknusantara.net – Saya minta seluruh Korps Bhayangkara tetap solid dan satu komando. Rapatkan barisan. terus berjuang agar Kepolisian tetap di bawah atau bertanggung jawab kepada Presiden. Saya lebih baik mundur, jadi petani saja, jika kepolisian di bawah Kementerian’’.
Pernyataan itu disampaikan Kapolri, Jendral Listyo Sigit Prabowo (LSP) di depan Komisi III DPR RI. Orang nomor satu di Korps Bhayangkara penuh percaya diri, samar tercium bau anyir secara politis (LSP) menggertak DPR, atau mungkin juga (menantang) Presiden, yakni Prabowo Subiyanto.
‘Gertakan’ yang membuat sejumlah pihak meradang atau bahkan marah tersinggung LSP. ‘’Pak Prabowo, Pak Prabowo, jangan didiemin, sampean (Presiden) itu mendapat mandat rakyat. Ganjar sama Prof Mahfud saja sampean kalahkan, masak takut sama Kapolri,’’ujar Kang Sosro sedikit emosi. Bukan hanya Kang Sosro ucapan satire, Roma Irama Terlalu banyak diartikulasikan orang di mana-mana.
Lantas bagaimana sikap Presiden Prabowo ketika itu??, Tidak ada, nothing, sama sekali tidak ada, malah Presiden seperti ambles bumi. ‘’Apa mungkin Presiden takut, bisa bisa memang takut beneran. LSP ketika itu sakti mondroguno, terindikasi perintah Prabowo juga tidak direwes.Presiden membentuk tim reformasi Polri, LSP buat tim sendiri,’’beber Rizal menimpali.
Prof Mahfud : Pembangkangan!
Atas sikap LSP, tokoh nasional, seperti Prof Mahfud Md ikut angkat bicara. Guru Besar UII Jogja ini bahkan menilai LSP (Listyo Sigit Prabowo) telah masuk kategori pembangkangan. ‘’Kalau lah pembangkangan itu terlalu ekstrem, tetapi sikap Kapolri (LSP) mengindikan bentuk insubordinasi,’’ujar mantan Ketua MK ini.
Sebenarnya tidak hanya Prof Mahfud, tokoh-tokoh civil society dadanya sudah mengkap-mengkap. ‘’Kalau saya presidennya, dia (LSP) sudah saya copot, saya ganti, nggak pakai lama,’’kata Rocky Gerung tegas.
Perihal sikap Listyo yang ‘mbalelo’, membangkang, atau melakukan insubordinasi belakangan terkuat Presiden Prabowo sudah ‘mbedhedheg’. Tetapi apa mau dikata, merujuk berita yang menguar dan viral sekarang, paling tidak sudah empat kali Presiden Prabowo akan mengganti atau melengserkan Sigit Prabowo.
Tetapi ada kekuatan sakti, kuat sekali membelanya. Empat kali mau mencopot empat kali pula mental. Baru kelima kalinya bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila tanpa ba bi bu dilakukan sangat cepat bagaikan kilat.
Ibarat kereta api melintasi terowongan, tatkala penumpang tergagap masuk lorong gelap, begitu keluar perubahan sudah terjadi. Jendral Suyudi Ario Seto naik tahta menjadi Tribrata Satu. Listyo ketika itu bisa jadi sedang bingung tiba-tiba ada pemberitahuan dari Istana, dia diminta datang untuk dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Terkait turbulensi kebijakan, yakni pergantian Kapolri dari LSP ke Suyudi sejumlah spekulasi beredar ke publik. Ini ada apa, tidak biasanya Presiden membuat kebijakan mengejutkan. Tetapi kebuntuan itu terjawab, sepertinya alam memberi tengara pada kita untuk memahami labirin labirin kuasi yang tidak serta merta dapat dipahami.
Astaga, ampun-ampun, toba-tobat, tiba-tiba gemuruh puting beliung menggelegar membuat gempar. Listyo Sigit Prabowo, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) ditangkap Bareskrim Mabes Polri, sangkaannya tidak kaleng-kaleng melakukan dugaan penyadapan ilegal (illegal intercept) yang menyasar lingkaran tertinggi kekuasaan, termasuk Presiden Prabowo Subianto.
Yok opo’o iki, ‘’Sampean kok keblinger, jujur, ya jujur saya shock, kaget, jantung seperti berhenti berdetak. Mantan Kapolri, saat ini Kepala Staf Kepresidenan (KSP) diduga kuat memerintahkan melakukan penyadapan Kepala Negara. Ini gak masuk akal, bener-bener gak masuk akal. Keblinger-keblinger,’’ujar Kang Sosro bersungut-sungut.
Tindakan LSP, yang sekarang menjadi KSP, kata Kang Sosro lagi, ibarat anak kurang ajar. Dia memasang penyadap di kamar pribadi orang tuanya. ‘’Kurang ajar, ini sudah durhaka. Pantas Prof Mahfud menilai ini tidakan makar. Bedebah, sontoloyo-sontoloyo,’’begitu umpatnya.
Sebentar-sebentar Pak Listyo, kalau boleh tahu siapa yang menyuruh sampeyan. Saat ini Pak LSP, yang masih menjadi KSP, belum memberikan keterangan apa apa. Dengan tangan diborgol dan mulutnya ditutup masker putih digiring menuju ruang tahanan. ‘’Lagi lagi saya bingun, ya bingun sekali. Pasti yang memerintah LSP, sampai ditetapkan menjadi tersangka (dugaan) makar TSK orang yang sangat kuat. Dia invisible hand, kuat tapi tak tersentuh, war biasa, war biasa,’’ ujar Cak Rizal geleng-geleng.
Di benaknya orang kuat di negeri ini adalah mereka yang sering menepi di Puncak Lawu, atau topo broto di Pantai Selatan dekat dengan penguasanya, Nyi Roro Kidul. Cak Rizal melamun, cerutunya mati, kopinya habis, ‘’Wis aku tak turu maneh, arep adus banyu kembang sopo ngerti ditelp Istana ganti LSP, jadi KSP,’’begitu gumamnya.
Penulis, Wartawan Seniior, Ahli Pers Dewan Pers. Selain aktif menjadi Ahli Pers dipercaya menjadi Ketua SMSI Jawa Tengah juga Wakil Ketua SMSI Pusat. Iniisiator MOJO (Mobil Journalis Indonesia) dan menjadi Ketua Umum. Selain itu ikut berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang diketuai Denny JA. Alumni FIB Undip dan sedang menempuh program doktoral di Unsoed Purwokerjo, konsentrasi Komunikasi Agribisnis.(Red)

