
PATI, JejakNusantara.net || Berawal dari kegelisahan seorang ibu saat pandemi Covid-19, usaha rumahan Sambal Tayu kini berkembang dan produknya dipasarkan di berbagai swalayan hingga toko oleh-oleh di Kabupaten Pati. Usaha ini dirintis oleh Arina Fitri Zakiyah, warga Desa Tayu Wetan, Kecamatan Tayu.
Arina memulai usahanya pada tahun 2020, ketika pandemi memaksa banyak orang beraktivitas dari rumah. Situasi tersebut justru memunculkan ide untuk membuat sambal kemasan yang praktis namun tetap bergizi.
“Awal usaha karena imbas Covid. Semua harus di rumah, sementara anak-anak saya di pondok. Saya mulai berpikir bagaimana tetap bisa mengirim lauk yang awet tapi tetap ada nutrisi, kalsium, vitamin, mineral, protein, dan lemak,” ujar Arina.
Dari pemikiran tersebut, ia mulai memproduksi sambal khas Tayu yang bisa bertahan lama dan praktis dikirim ke anak-anaknya di pondok pesantren. Produk tersebut kemudian berkembang menjadi usaha UMKM dengan merek Sambal Tayu.
Untuk memperkuat usahanya, Arina mengurus berbagai perizinan dan mengikuti pelatihan kewirausahaan. Ia mengurus perizinan melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) serta mengikuti pelatihan PKP di Dinas Kesehatan Kabupaten Pati.
Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan komunitas UMKM yang difasilitasi Dinas Koperasi dan UMKM Pati.“Lalu saya ngurus perizinan di MPP, ikut pelatihan PKP di DKK, masuk grup komunitas UMKM, dan ikut pelatihan-pelatihan dari Dinkop UMKM Pati,” katanya.
Saat ini Sambal Tayu memiliki empat varian produk, yakni sambal bandeng, sambal pedho, sambal teri, dan sambal tongkol. Produk-produk tersebut dipasarkan dengan sistem titip jual (konsinyasi) di sejumlah swalayan, restoran, dan toko oleh-oleh di Pati dan sekitarnya.
Beberapa tempat yang menjadi mitra penjualan antara lain Surya Baru Swalayan, Toko Roti Menang, Rahajeng Resto, Rindang 84 Resto, Toko Oleh-oleh Gentong, Toko Oleh-oleh Kirana Kudus, serta Primkop Kodim Pati. Sebelumnya, produk Sambal Tayu juga sempat dipasarkan di Pragola Store.
Meski kini usahanya semakin dikenal, Arina menegaskan bahwa seluruh proses merintis usaha tersebut dilakukan secara mandiri tanpa bantuan dari pihak lain.“Alhamdulillah sudah berjalan sampai sekarang. Tidak ada bantuan dari pihak manapun, semua usaha sendiri,” tuturnya.
Dari dapur rumah di Desa Tayu Wetan, Sambal Tayu menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan dapat melahirkan peluang usaha, bahkan di tengah situasi sulit seperti pandemi. (Red)

