
Cilacap, JejakNusantara.net || Perjalanan silaturahmi spiritual ke sejumlah lokasi yang dikenal sebagai pusat laku batin dan pelestarian nilai-nilai luhur Nusantara menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman tentang hakikat kehidupan, kesadaran diri, serta pentingnya menjaga warisan ajaran para leluhur di tengah dinamika kehidupan modern.
Perjalanan diawali dengan mengunjungi *Jambe Tujuh*, Padepokan Ampel Gading, tempat berlangsungnya silaturahmi antara Agus Mujayanto dengan penjaga Jambe Tujuh, Pak Totok. Dalam suasana penuh keakraban, keduanya melakukan *ngudorasa* atau perbincangan santai mengenai berbagai kenyataan (kahanan) yang tengah dihadapi masyarakat saat ini, terutama semakin pudarnya kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam perbincangan tersebut, Agus Mujayanto menyampaikan falsafah Jawa “Sangkan Paraning Dumadi”, yaitu ajaran tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia. Menurutnya, setiap manusia datang ke dunia sebagai bagian dari kehendak Sang Pencipta dan pada waktunya kelak akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, kehidupan hendaknya dijalani dengan kesadaran, kebijaksanaan, serta selalu mengingat hakikat kepulangan manusia kepada asal sejatinya.
Pandangan tersebut kemudian diperdalam oleh Pak Totok yang menjelaskan bahwa memahami hakikat kehidupan bukan sekadar mengetahui dari mana manusia berasal, melainkan juga menyadari bahwa setiap perjalanan hidup memiliki batas waktu. Pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, sehingga selama menjalani kehidupan di dunia perlu membangun akhlak, menjaga hati, serta memperbanyak amal kebajikan sebagai bekal menuju kepulangan tersebut.
Nilai tersebut juga selaras dengan falsafah Jawa *”Manunggaling Kawula lan Gusti”*, yakni upaya mendekatkan diri kepada Tuhan melalui penyucian batin, pengendalian diri, pengabdian kepada sesama, serta hidup selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Padepokan Ampel Gading sendiri dikenal sebagai tempat yang menanamkan pendidikan budi pekerti, tata krama, sopan santun, serta nilai welas asih kepada sesama manusia maupun alam semesta. Masyarakat juga diajak untuk tetap menjaga dawuh para leluhur yang selaras dengan nilai ketuhanan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta.
Usai dari Jambe Tujuh, perjalanan dilanjutkan menuju Jambe Lima di Wihara Tri Ratna Gunung Selok, Srandil, Kabupaten Cilacap. Kawasan Gunung Selok dan Srandil sejak lama dikenal sebagai salah satu lokasi yang memiliki nilai sejarah, budaya, sekaligus spiritual yang masih dijaga hingga kini.
Dalam kunjungan tersebut, Agus Mujayanto berkesempatan bersilaturahmi dengan *Bhante Jhanna Faru*. Pertemuan tersebut terjadi karena *Bhante Cira* yang selama ini menggantikan almarhum *Bhante Dhamma Tejo* sedang memiliki agenda di luar daerah, sehingga kesempatan berdialog berlangsung bersama Bhante Jhanna Faru.Dalam suasana santai, keduanya melakukan *ngudorasa* mengenai berbagai kenyataan kehidupan (*kahanan*) yang terjadi dewasa ini. Pembahasan berfokus pada semakin besarnya tantangan kehidupan modern yang kerap membuat manusia terjebak dalam ego, ambisi, serta kegelisahan, sehingga semakin membutuhkan kesadaran batin sebagai landasan menjalani kehidupan.
Bhante Jhanna Faru menekankan bahwa manusia hendaknya mampu mengendalikan pikiran dan gejolak perasaan agar tidak mudah dikuasai oleh hawa nafsu maupun emosi. Menurutnya, kejernihan hati merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang damai, bijaksana, serta penuh welas asih terhadap sesama.
Beliau juga mengingatkan pentingnya memiliki rasa malu sebagai benteng moral dalam bersikap dan bertindak, karena dari kesadaran itulah akan lahir tanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam, serta kepada Tuhan.
Rangkaian dialog yang berlangsung di Jambe Tujuh maupun Gunung Selok Srandil pada hakikatnya bermuara pada pesan yang sama, yakni pentingnya membangkitkan kesadaran spiritual di tengah kehidupan modern. Kebangkitan spiritual tidak dimaknai sebagai meninggalkan kehidupan dunia, melainkan membangun kesadaran diri agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan hati yang jernih, budi pekerti yang luhur, serta senantiasa mengingat bahwa setiap perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Gunung Selok dan Srandil sendiri juga dikenal dengan ungkapan filosofis, “Sokmo Rogo Anggayuh Nedyo Doyo Ilham Langgeng.”Ungkapan tersebut dimaknai sebagai ikhtiar manusia dalam menyelaraskan jiwa dan raga untuk memperoleh ilham, kebijaksanaan, serta keteguhan batin yang lestari dalam menjalani perjalanan kehidupan.
Melalui rangkaian silaturahmi spiritual ini, diharapkan nilai-nilai luhur warisan budaya Nusantara tetap terjaga dan mampu menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya membangun karakter, meningkatkan kesadaran spiritual, menjaga harmoni dengan sesama, alam semesta,serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi utama bagi lahirnya manusia yang arif, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan. (Bang_Bro)

