
PATI, JejakNusantara.net || Aktivis budaya dan pemerhati kearifan lokal, Agus Mujayanto, melakukan kunjungan silaturahmi dengan Komandan Batalyon Infanteri (Danyon) 406. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban tersebut diisi dengan diskusi mengenai pentingnya menjaga harmoni antara nilai-nilai agama, budaya, serta kearifan lokal sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Dalam perbincangan tersebut, Agus Mujayanto menegaskan bahwa agama dan budaya sejatinya dapat berjalan selaras apabila dijalankan dengan menjunjung tinggi etika, toleransi, serta semangat *Tepa Sarira*, yakni sikap saling menghormati, memahami, dan menghargai sesama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan serta memperkuat kehidupan bermasyarakat.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian dalam pertemuan tersebut adalah keberadaan sebuah keris yang terpajang di ruang kerja Danyon 406. Keris tersebut diceritakan sebagai *Kyai Tilam Upih* atau *Kyai Jalak* dengan pamor *Kulit Semongko*, yang memiliki filosofi mendalam bagi seorang pemimpin. Keris tersebut melambangkan bahwa seorang pemimpin harus mampu membaur dengan seluruh unsur masyarakat tanpa membedakan latar belakang.

Selain itu, keris juga menjadi simbol kemakmuran, nilai-nilai spiritual, serta kejayaan bangsa pada masanya, sekaligus mencerminkan kekuatan jati diri dan identitas budaya Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Komandan Batalyon Danyon 406/CK, *Letkol Inf. Solikin, S.I.P.,*, menyampaikan bahwa pelestarian budaya memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, khususnya pada era Generasi Z dan Generasi Alpha, pengenalan jati diri bangsa melalui budaya dan kearifan lokal menjadi hal yang sangat penting sebagai bekal menghadapi masa depan.
“Di era Generasi Z dan Generasi Alpha saat ini, pengenalan jati diri bangsa melalui budaya dan kearifan lokal sangat diperlukan sebagai upaya menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan pada masa yang akan datang,” ujar Letkol Inf. Solikin.
Agus Mujayanto juga menyampaikan apresiasi kepada Danyon 406 atas kesediaannya menerima kunjungan silaturahmi tersebut. Ia menilai kepedulian Danyon terhadap pelestarian budaya merupakan langkah positif yang patut mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Danyon 406 atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Dalam pertemuan ini kami berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kearifan lokal dan kebudayaan. Kami juga memberikan apresiasi atas dukungan Yonif 406 dalam penyelenggaraan pagelaran wayang kulit pada kegiatan Ruwat Bumi yang digelar bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam atau bulan Suro,” ujar Agus.
Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan budaya tersebut tidak hanya menjadi sarana melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, nasionalisme, serta identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Agus menambahkan, sosok Danyon 406 sebagai pemimpin muda dinilai mampu menunjukkan komitmen dalam menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keagamaan dan pelestarian budaya. Di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai aparat negara dalam menjaga kedaulatan, keamanan, dan ketertiban wilayah tetap menjadi prioritas utama.
Ia berharap sinergi antara unsur TNI, tokoh budaya, pemerintah, dan masyarakat dapat terus diperkuat dalam menjaga kelestarian budaya bangsa tanpa mengesampingkan nilai-nilai agama. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga menjadi pedoman dalam membentuk karakter generasi penerus yang berakhlak, berbudaya, dan memiliki rasa cinta tanah air yang kuat. (Bang_Bro)

