(Maaf), Simolakrum Wawuk vs Peradaban Topeng

Bagikan:

(

Usai jamaah sholat Subuh, Kang Sosro memanggil beberapa cantriknya. ‘’Pagi ini kita kumpul, nanti mau ada tamu, Pak Bambang namanya. Beliau datang untuk jadi nara sumber. Kita mau adakan FGD (focus group disscusion) ya,’’begitu Kang Sosro menyampaikan agenda dadakan. ‘’Maaf, FGD itu apa ya Kang,’’sela Parjo Saring memberanikan diri bertanya.
Sejak kuliah S3, untuk ambil Doktor, Kang Sosro banyak kemajuan. Berfikirnya sistematis, tidak asal ‘njeplak’, bicaranya runtut, kayak dosen atau guru Bahasa Indonesia. Pola-pola manejemen dikenalkan pada anggota komunitas. ‘’Semua ikut, wajiib, Acaranya (FGD) di Padepokan (rumah Kang Sosro),’’ begitu kata Kang Sosro, atau lebih tepat perintah.
‘’Ya, kalau ud dibilang wajib, mau biigimana (bagaimana maksudnya) lagi. Bubar dah rencana gua. Emang FGD apaan siich,’’begitu Rizal ngedumel. Dia sebenarnya sudah berencana tengok istri dan anak di Jogja, terpaksa harus digeser waktunya, dari pada kena semprot. ‘’Boro-boro semprat doang, kalau udah pakai embel-embel wajib kagak nurut bisa kena kepret,’’celetuk Rizal ngelanjutin grundelannya.
Mereka (anggota LSM) sebenarnya kepo (penasaran atau ingin tahu) banyak hal terkait kegiatan FGD. Siapa sicch Pak Bambang, ‘’Apa wartawan yang pernah jadi Ketua DPR ya (Bamsoet maksudnya), atau Bambang Tri aktivis, penulis buku Jokowi Undercover, atau Bambang lain lagi,’’begitu kecamuk pertanyan yang memenuhi kepala beberapa anggota Padepokan, usai ketemu Kang Sosro.
‘’Sudah-sudah, tidak usah dipikir, tunggu saja. Nanti juga tahu sendiri. Gitu aja kok repot,’’sergah Pujo meredakan. Sahabat karib sejak SD ini, makin paham aras pemikiran juga goal atau muara kegiatan yang diprakarsai Kang Sosrto, termasuk FGD ini. Intinya adalah pemberdayaan dan penguatan civil society.
‘’Kita sekarang harus melek (paham) informasi, juga melek manajemen agar tidak jadi korban peradaban,’’begitu Pujo membeber menjelaskan pada temen-teman. Pesan Pujo lagi, kita perlu aktif, terbuka, dan peka terhadap fenomena juga dinamika aktual yang berkembang.
Ini era disrupsi, semua akses dapat kita gali dan dapatkan dari mana saja. ‘’Dunia maya, ruang digital adalah wahana menjelajahi dunia. Jadi jangan ketinggalan zaman (informasi). Siapa yang menguasai informasi, merekalah yang akan memenangi peperangan,’’urai Pujo dengan mata ‘liyer-limemberi motivasi.

Cerdas Menyikapi Keadaan
Hari-hari ini dinamika politik bereskalasi ‘ngegaas’ seperti mendidih. ‘’Rem sudah tidak ada gunanya. Gas poll rem blong. Pukul dulu, urusan belakang,’’kata Pujo lagi, sambil wanti-wanti untuk itu kita harus cerdik, cerdas menyikapi keadaan. ‘’Ingat zaman ‘gestok’ dulu (maksudnya tragedi G30SPKI), atau ‘Petrus” (penembakan misterius) zaman Orde Baru,’’ingat itu, hati-hati pesan Eko lagi.
Hancuk, bajindul, over domeh, Rizal kembali menggurutu, grenengan sendiri dalam hati. Diam-diam persoalan dengan berbagai kontroversi ganjil yang terjadi mengusik hatinya. ‘’Tersangka Payment Gate Away, Denny Indrayana (maaf tidak usah pakai gelar profesor) menggugat soal ijazah Gibran di MK. Iki dagelan opo?! Podo ae, maling teriak maling, Harusnya Denny, tangkap, dan ditahan. Soal gugatan ijasah biar orang lain yang urus,’’beber Rizal meski emosi tetap menahan diri jadi substansi, juga esensi kritik tidak bias.
Kasus ijazah Gibran tentu perlu atau harus diusut. KPU, MK siapa saja yang terlibat ‘persekongkolan’ juga penyelundupan konstitusi harus dibawa ke ranah hukum. Itu mutlak. Tapi jangan oleh Denny. ‘’Denny itu bukan karena nilai setitik rusak susu sebelanga. Tetapi lebih horor, karena nila sebelanga, merusak seluruh tatanan hukum kita,’’gile-gile, epe juga kete gua, begitu sindir Rizal telak.

Kontroversi Keputusan MK
Dahyat, dahsyat, ini bom yang luar biasa. Kontroversi keputusan MK soal ijazah SMA Gibran mengalahkan huru-hara kelangkaan BBM, jenis solar di berbagai daerah. Di Bali antrean mengular panjang berkilo-kilo. Di Banten sama, di setiap SPBU puluhan truck, bus rela antri .
‘’Hancuk, bajindul. Seumur-umur jadi sopir, baru kali ini antre solar sampai setengah hari,’’keluh Wahono, pengemudi dump truck bersungut-sungut sembari berteduh ngeloset menyandarkan tubuh lebihnya di badan truk. Panas terik akibat kemarau kelewat musim nyaris tak dihiraukan. ‘’Allahu akbar, allahu akbar, ‘’tiba-tiba dia memekik takbir, meski tak bersuara, kerongkongan kering bekal bawaan air putih berbotol-botol sudah habis.
‘’Bu Mega, Pak Sby, Pak Jokowi, Pak Prabowo, ‘’Ibu…bapak-bapak di mana. Apa sampeyan tidak melihat penderitaan rakyat begitu berat. ‘’Apa ini karma, hukuman karena dipimpin para duda. Pak Prabowo, presiden duda. Ahmad Lutfi, Gubernur Jateng duda. KDM, Gubernur Jabar duda. Iya juga ya, karena mikir sendiri, jadinya pincang,’’gerutu mereka, Parjo Saring, Pujo, Rizal kompak.
Pendapat lebay Parjo Saring, dan Pujo ditampil Kang Sosro. Menurutnya tanpa istri beliau-beliau bisa lebih fokus. Pikirannya tidak ke mana-mana. Tetapi analisa itu dimentahkan, sejarah menunjukkan di balik pemimpin besar, selalu ada wanita hebat yang mendampingi. ‘’Nabi Muhammad teguh, amanah, sidiq, fatonah, karena Khadijah, Bung Karno juga, ada wanita-wanita emas disampingnya,’’itu fakta, kata Rizal.
Peradaban itu fakta, bukan topeng, atau kepalsuan apalagi simolakrum (selingkuh) oleh wanita (wawuk). ‘’Sudah-sudah jangan ngelantur, ‘’serga Pujo mengingatkan.
Spekulasi liar meletup menguar ke mana-mana. Ada yang usil mengatakan, kejadan begini karena negara kalah sama oligarkhi. Atau ini sengaja dibuat untuk pengalihan isu. Mafia-mafia berkonsolidasi kena babat Kapolri baru, jawara Banten Jendral Suyudi Ario Seto. Bukan cuma mafia solar, judi (baca jujur dilarang), dunia remang-remang semua tiarap.
Ini perintah langsung Kapolri baru, Jendral Suyudi Ario Seto. ‘’Duuh, pantas salar langka, mafianya pada tiarap,’’begitu seloroh Rahmad, aktivis LSM asal Kota Wali.
Turunnya Listyo Sigit diakui atau tidak memicu gonjang-ganjing. ‘’Yang tiarap bukan hanya mafia solar, judi, karaoke semua minggir. Gile-gile, semua disikat habis. Mau sampai kapan begini,’’keluh mereka yang biasa ikut cari makan di sana (bisnis judi, karaoke). ‘’Sabar, sabar, nanti juga buka. Emang mereka kagak doyan duit. Ibarat sepakbola lagi pergantian pemain,’’ujarnya.
Ketika grundelan, dan tumpahan uneg-uneg berseliweran, tanpa jelas arah, makin mendaki, mendidih, nyaris jadi debat kusir Kang Sosro hadir membersamai persamuan, seraya pegang mik, mendadak semua diam. ‘’Teman-teman FGD, bersama Pak Bambang, beliau sahabat kita, wartawan, politisi, dan guru kita semua segera kita mulai. Silakan apa saja masalah dapat ditumpahkan di sini. Kita semua jujur saja, jadi diri sendiri, kita buka topeng-topeng kita. Demi kita, demi bangsa, ademi NKRI. Selamat ber-FGD,’’begitu Kang Sosro dengan suara datar, tetapi lantang, dan sangat berwiban. Tabik.

Semarang, jejaknusantara .net – penulis adalah Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers. Aktif di SMSI, Wakil Ketua SMSI Pusat, dan Ketua SMSI Jateng (Konstituen Dewan Pers). Mendirikan dan memimpin MOJO (Mobile Journalis Indonesia) sebagai Ketua MOJO Indonesia. Melola Media Online yang cukup berpengaruh, yakni Headlinnews.id dan mengajar jurnalistik serta aktif di Satu Pena Indonesia (Organisasi Penulis yang diketuai Denny JA). Saat ini sedang mengikuti S3, program Doktoral di Unsoed Purwokerto mengambil Komunikasi Agribisnis.

Oleh : Jayanto Arus Adi*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page