Tanpa Sound Horeg, Kirab Budaya Desa Tlogorejo Tlogowungu Berlangsung Meriah

Bagikan:

PATI, JejakNusantara.net || Ribuan masyarakat Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati melaksanakan kirab budaya dalam rangka sedekah bumi dengan meriah, Sabtu 9 Mei 2026. Acara dimeriahkan dengan berbagai pernak-pernik pakaian adat nusantara yang dikenakan oleh warga beserta gunungan hasil bumi.

Start dari rumah kepala desa, peserta kirab kemudian menuju ke kantor kecamatan lama sebelum finish di kantor desa setempat.

Suharno selaku kepala desa mengungkapkan, kirab ini merupakan yang kelima kali dilaksanakan oleh warga desa sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

“Kirab budaya sudah tahun kelima dari warga desa sendiri. Dimulai dari rumah kepala desa menuju kantor kecamatan lama dan berakhir di balai desa,” kata Kades.

Adanya karnaval sebagai bentuk nguri-nguri budaya ini, juga diapresiasi oleh Pemkab Pati melalui Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar).

Kepala Dinporapar Pati Rekso Suhartono, melalui Kabid Pemasaran Pariwisata Mohamad Roni, pada Senin 18 Mei 2026 menyampaikan, tradisi ini sebagai pengingat kepada generasi muda bahwa Desa Tlogorejo merupakan cikal bakal dari berdirinya Kecamantan Tlogowungu. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sendang dan pohon ungu yang menjadi objek wisata di desa setempat.

“Pemdes Tlogorejo Tlogowungu bersama masyarakat melaksanakan kirab budaya sebagai bentuk tradisi nguri-nguri. Desa ini adalah cikal bakal dari Tlogowungu yang dibuktikan dengan adanya sendang dan pohon besar,” ungkap Roni.

Ia menilai yang paling unik dalam pelaksanaan kirab ini adalah ketiadaan sound horeg. Menurutnya kirab kali ini walaupun dilaksanakan tanpa sound horeg namun tetap meriah karena menyajikan kirab budaya yang khidmat dan religius.

Sehingga, kata Roni, dalam pelaksanaan kirab benar-benar mengutamakan tradisi dan budaya Jawa. Dengan pagelaran wayang kulit yang ditampilkan untuk menghibur masyarakat desa.

“Jadi mengambil nilai nilai historis dan religi yang dibalut dalam acara sederhana namun meriah. Dengan upacara adat Jawa dan diakhiri dengan makan bersama masyarakat yang hadir. Jadi sedekah bumi hanya kirab dan pagelaran wayang kulit ini tetap meriah dan dapat menghibur masyarakat” imbuhnya.

Roni berharap agar nantinya generasi muda bisa meneruskan tradisi ini setiap tahunnya. Sehingga ia mendorong peranan anak muda dalam mengikuti kegiatan ini untuk mendukung potensi wisata setempat. “Harapannya bisa terus berjalan dan diwarisi anak-anak muda. Sehingga potensi wisata bisa terus berkembang,” tandasnya. (Hang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page