
PATI, JejakNusantara.net || Memasuki bulan apit dalam penanggalan Jawa atau setelah hari raya idul fitri (April-Mei 2026), hampir setiap hari di Kabupaten Pati pasti terdapat pentas seni ketoprak yang pentas saat sedekah bumi di desa. Kesenian ini sendiri menampilkan atraksi sekelompok orang yang diselingi dengan candaan hingga musik dangdut khas Jawa.
Pagelaran ini pun menjadi daya tarik wisata dan ekonomi kreatif tersendiri di Kabupaten Pati. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Pati sebagai kabupaten kreatif oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di tahun 2025 lalu.
Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Rekso Suhartono, melalui Kabid Pemasaran Pariwisata Mohamad Roni, manyampaikan penobatan ini dikarenakan pertunjukan seni ketoprak di Kabupaten Pati menjadi ciri khas dan sangat diminati masyarakat.
Utamanya saat memasuki bulan apit, yang mana hampir di semua desa di Kabupaten Pati menyambut acara sedekah bumi. Dengan ketoprak sebagai salah satu hiburan yang biasanya diselingi hiburan wayang kulit atau dangdut.
“Saat ini sekitar bulan April-Mei memang banyak desa-desa yang melaksanakan sedekah bumi dengan menghadirkan pentas seni ketoprak. Ini adalah seni pertunjukan yang menjadikan Kabupaten Pati dinobatkan sebagai kabupaten kreatif oleh kementerian Ekraf Republik Indonesia. Jadi Pati adalah satu-satunya kabupaten di Indonesia yang masih sangat menguri-nguri budaya ketoprak, dengan jumlah kelompok pentas ketoprak terbanyak di Indonesia,” kata Roni, Kamis 20 Mei 2026.

Selain nguri-nguri budaya leluhur, kata Roni, adanya pentas seni ketoprak ini menunjukan bahwa masyarakat Pati masih kental dengan budaya nenek moyang. Termasuk juga mampu menarik minat wisatawan untuk datang ke Pati menyaksikan kesenian ketoprak.
Bahkan sebagai bentuk dukungan pemerintah agar kesenian ini tetap eksis, dalam beberapa acara juga dihadirkan ketoprak. Seperti pada saat hari jadi kabupaten Pati, hingga saat sosialisasi kegiatan pemerintah.Pihaknya di Dinporapar berharap, generasi muda nantinya bisa mempertahankan tradisi budaya ini. Sehingga anak cucu generasi mendatang dapat menikmati pagelaran seni yang luar biasa ini.
“Jadi jumlah seniman ketoprak ini terbesar di Indonesia. Dari 401 desa 5 kelurahan hampir setiap tahun di momen sedekah bumi menghadirkan ketoprak untuk hiburan masyarakat. Kami mengapresiasi yang sebesar-besarnya untuk masyarakat yang sampai saat ini masih nguri-nguri, bahkan sampai menjamur. Predikat kabupaten kreatif ini bisa terus kita pertahankan,” tambahnya.

Beberapa grup ketoprak yang masih eksis sampai saat ini antara lain Wahyu Manggolo (Jakenan), Bakti Kuncoro (Batangan), Krido Carito (Jaken), Siswo Budoyo (Juwana), dan Wahyu Budoyo (Dukuhseti) dan masih banyak lagi. Untuk tarif sekali tanggapan ketoprak siang-malam rata-rata sekitar Rp 40 juta. Dengan satu grup, personelnya bisa mencapai lebih dari 80 orang yang terdiri atas paraga, ledek, dan kru.
Selain tradisi hiburan dalam acara hajatan, mulai pernikahan, khitanan, hingga aneka tasyakuran, ketoprak juga tak pernah ketinggalan dipentaskan di sejumlah tradisi khalayak, seperti sedekah bumi (bersih desa) dan sedekah laut. (Hang)

